Cerita Tentang Dayak dan Banjar Kalimantan Selatan




"HIKAYAT DAYAK DAN BANJAR"
Sekitar tahun 3000-1500 S.M untuk pertama kalinya Pulau Kalimantan kedatangan Imigran yang berasal dari daerah Yunan di China Bagian Selatan. Imigran dari Yunan inilah yang menjadi cikal bakal suku Dayak di pulau Kalimantan atau dikenal pula dengan istilah suku “Melayu Tua”.
Dari Legenda suku Melayu Tua (Dayak) ini disebutkan bahwa terdapat lima kelompok besar yang dipimpin Lima bersaudara yaitu Abal, Anyan, Aban, Anum dan Aju. Kelima bersaudara ini sangat sakti, bijaksana dan berwibawa. Menurut cerita suku Dayak Tua, kelima saudara ini titisan dari Dewa Batara Babariang Langit, yaitu : titisan Dewa Batahara Sangiang Langit.
Batara Babariang Langit kawin dengan Putri Mahuntup Bulang anak dari Batari Maluja Bulan dan Melahirkan Maanyamai, dan Maanyamai beristri dan istrinya melahirkan anak bernama Andung Prasap Konon sangat sakti. Dan membangun Negeri Nan Marunai (Nan Sarunai) kemudian Andung Prasap beristri anak Raja menggaling Langit dan melahirkan kelima saudara tersebut di atas.
Kelima saudara inilah kelak menjadi cikal bakal suku Dayak di pulau Kalimantan. Mereka mengembara ke pelosok pulau Kalimantan, konon si Abal ke daerah Timur menurunkan suku Aba, Anyan ke daerah Selatan menurunkan suku Manyan, Aban ke daerah Barat menurunkan suku Iban, Anum ke Utara menurunkan suku Otdanum dan Aju ke daerah Tengah menurunkan suku Ngaju.
Dan mereka diberi pitua :” Tabu/ dilarang bacakut papadaan apalagi bermusuhan, karena mereka satu daerah satu nyawa, menurut pitua Nenek Moyang mereka mengatakan (pitua) terkutuk apabila bakalahi satamanggungan.
Dari cerita silsilah keturunan Dayak tersebut adalah Anyan anak nomor dua menurunkan suku Maanyan yang mengembara ke daerah selatan mempunyai 10 orang anak yang dikenal dengan sebutan “cucu urang 10” yaitu Luwa, Pahi, Alai, Wangi, Sari, Aju, Burai, Buun, Kutip dan Asih. Mereka ini adalah cikal bakal penduduk Kalimantan Selatan, sebagian ke daerah Barito Selatan dan Timur (Kalteng) serta ke daerah Pasir (Kaltim). Luwa menjadi cikal bakal urang Kalua, Pahi jadi cikal bakal urang Mahi, Alai menjadi cikal bakal urang Birayang (HST), Wangi menjadi cikal bakal urang Mawangi (HSS), Sari menjadi cikal bakal urang Masari/Marga Sari (Tapin), Aju menjadi cikal bakal urang Biaju, Burai menjadi cikal bakal urang Maburai (Tabalong), Buun menjadi cikal bakal urang Mabuun dan Warukin, Kutip menjadi cikal bakal urang Makutip dan Asih menjadi cikal bakal urang Masih (Alalak).
Pada abad ke-5 M berdiri sebuah kerajaan di Kalimantan Selatan bernama Kerajaan Tanjungpuri. Berdirinya kerajaan ini bermula dari kedatangan para Imigran Melayu dari Kerajaan Sriwijaya di pulau Sumatera pada sekitar abad ke- 4 M. Para Imigran Melayu yang mempunyai kebudayaan lebih maju dibanding penduduk lokal pada masa itu mendirikan perkampungan kecil di daerah pesisir sungai Tabalong.
Para imigran tersebut berbaur bahkan melakukan perkawinan dengan penduduk setempat yakni suku Dayak. Hasil dari perpaduan antara suku Melayu dan Dayak itulah yang akhirnya menjadi cikal bakal Suku Banjar. Semakin lama perkampungan di pesisir sungai Tabalong itu semakin ramai sehingga akhirnya menjadi sebuah kerajaan kecil bernama kerajaan Tanjungpuri (diperkirakan terletak di kota Tanjung sekarang).
Keturunan Anyan dari anaknya Masari mendirikan kerajaan Candi Laras di Margasari (Kab. Tapin sekarang) pada Tahun 678 M. Bukti keberadaan Kerajaan Candi Laras adalah Tulisan di Prasasti “Kedukan Bukit” yang terdapat di kota Palembang bertahun 605 Saka/ 683 M berhuruf Pallawa. Isi tulisan “Daputra yang mengadakan perjalanan suci dengan perahu dari Minanga Tamwan membawa dua laksa tentara menuju timur”.
Bukti lainnya adalah Prasasti Batung Batulis yang ditemukan di kompleks Candi Laras Margasari bertahun 606 Saka. Isi tulisannya adalah “Jaya Sidda Yatra” yang artinya perjalanan Ziarah. Menurut Arkeologi Nasional prasasti tersebut berasal dari Sriwijaya. Jadi dua buah prasasti tersebut mempunyai keterkaitan karena memiliki kesamaan yaitu berhuruf Pallawa.
Prasasti Kedukan bukit bertahun 605 Saka yang merupakan Tahun keberangkatan dari Sriwijaya dan Prasasti Batung Batulis bertahun 606 Saka yang merupakan Tahun kedatangan di Candi Laras Marga Sari, merupakan hal yang logis sebab perjalanan waktu itu mungkin saja mencapai setahun dari Sriwijaya ke Candi Laras di Pulau Kalimantan. Sehingga menghapus mitos selama ini yang mengatakan bahwa Candi laras didirikan oleh Ampu Jatmika asal Keling pada Tahun 1387 M.
Bukti lainnya lagi adalah ditemukannya Patung Buddha dipangkara, patung tersebut dikenal sebagai azimat keselamatan bagi pelaut Sriwijaya yang beragama Buddha. Jadi sebenarnya yang datang ke Candi Laras di Marga Sari itu adalah rombongan dari kerajaan Sriwijaya pada Tahun 683 M.
Pada Tahun 1309 M orang-orang Maanyan mendirikan sebuah Kerajaan bernama Nan Sarunai. Kerajaan Nan Sarunai ini konon lanjutan dari periode sebelumnya dimana dahulu pernah berdiri juga kerajaan Nan Marunai (Nan Sarunai) oleh lima orang bersaudara yang merupakan leluhur orang Dayak di Kalimantan. Pada periode kedua ini Nan Sarunai didirikan oleh Japutra Layar.
Nan Sarunai sendiri berasal dari kata Marunai = memanggil dengan suara nyaring, Sarunai = menyaru dengan suara seperti suling, Nai = Seruling (dalam bahasa arab/melayu tua) sehingga dapat di artikan bahwa Nan Sarunai adalah rakyat yang gemar bermain musik/bernyanyi.
Kerajaan Nan Sarunai ini rakyatnya sangat makmur disebabkan mereka melakukan perdagangan sampai ke Sumatera, Jawa, Sulawesi bahkan sampai ke Madagaskar. Barang dagangan yang mereka bawa keluar antara lain kayu besi, getah, damar, rotan, madu lebah hutan dan lain-lain. Rakyat kerajaan nan Sarunai ini menganut kepercayaan Kaharingan.
Pada masa itu kerajaan Majapahit di pulau Jawa sedang berusaha menancapkan kekuasaannya di seluruh Nusantara. Adalah Maha Patih Gajah Mada (1313-1364) seorang mangkubumi terkenal Majapahit yang melakukan sumpah saat diangkat menjadi Mangkubumi Kerajaan pada Tahun 1336 M di masa kekuasaan Ratu Tribhuwana Tunggadewi (1328-1350) dikenal dengan “Sumpah Palapa” yaitu sebuah tekad untuk mempersatukan seluruh Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit. Ambisi Maha Patih Gajah Mada berlanjut sampai Prabu Hayam Wuruk (1350-1389) naik tahta.
Salah satu kerajaan incaran Majapahit untuk ditaklukkan adalah kerajaan Nan Sarunai dan kerajaan Tanjungpuri. Pada masa itu dua kerajaan ini merupakan wilayah perdagangan yang ramai, rakyatnya hidup makmur bahkan diceritakan dinding-dinding Istana kedua kerajaan ini berlapis emas sebagai tanda kemakmuran.
Maha Patih Gajah Mada mengutus seorang panglima handalnya untuk memata-matai kedua kerajaan ini yaitu Laksamana Nala, seorang berdarah Melayu asal Melaka yang mengabdi kepada kerajaan Majapahit. Atas hasil penyelidikan Laksamana Nala akhirnya Majapahit mengetahui kelemahan kedua kerajaan ini, sehingga pada Tahun 1356 M Majapahit mengirimkan ekspedisi militer pertamanya ke kerajaan Nan Sarunai sebagai batu loncatan untuk selanjutnya menyerang Tanjungpuri. Serangan pertama ini mengalami kegagalan sebab kerajaan Nan Sarunai bersatu dengan kerajaan Tanjungpuri dalam menghadapi serangan Majapahit.
Tersebutlah dalam legenda lima orang panglima Tanjungpuri yang terkenal ketika membantu kerajaan Nan Sarunai menghadapi serangan Majapahit yaitu Panglima Alai, Panglima Tabalong, Panglima Balangan, Panglima Hamandit dan Panglima Tapin. Kelima orang panglima ini merupakan lima bersaudara dimana si bungsu yaitu Panglima Hamandit dan Panglima Tapin adalah saudara kembar.
Mereka berlima anak dari Datu Intingan yang terkenal dalam legenda masyarakat di pegunungan Meratus. Datu Intingan adalah saudara dari Datu Dayuhan mereka berdua ini masih keturunan dari legenda Dayak Maanyan “cucu urang 10” dimana salah satu anak dari Datu Anyan yaitu Datu Alai (Alai Tua) menetap di wilayah Birayang (Meratus) yang menurunkan Datu Dayuhan dan Datu Intingan. Datu Intingan kawin dengan para Imigran Melayu dan mempunyai lima orang putera yang sekarang menjadi Panglima di Kerajaan Tanjungpuri. Setelah gagal dalam ekspedisi pertama, Majapahit kembali mengirim ekpsedisi militer kedua pada Tahun 1358 M.
Ekspedisi kedua kali ini dipimpin langsung oleh Laksamana Nala dengan membawa dua kali lipat pasukan dari ekspedisi pertama. Dalam rombongan pasukan besar ini terdapat juga pasukan khusus Majapahit yang terkenal yaitu pasukan “Bhayangkara”. Pada ekspedisi kedua ini pasukan Majapahit berhasil menaklukkan kerajaan Nan Sarunai, bahkan Raja Nan Sarunai yang bergelar Datu Tatuyan Wulau Miharaja Papangkat Amas serta Ratu yang bergelar Dara Gangsa Tulen gugur dalam peperangan. Peristiwa itu oleh orang Maanyan dikenal dengan istilah “Nan Sarunai Usak Jawa”.
Konon Raja Nan Sarunai di bunuh oleh Laksamana Nala dengan sebuah tombak sakti di dalam sebuah sumur tempat persembunyiannya. Laksamana Nala adalah seorang panglima terhebat Majapahit di masa itu, karirnya dimulai dari menjadi prajurit pasukan khusus kerajaan yaitu pasukan Bhayangkara. Setahun sebelum ekspedisi militer kedua ke Tanah Borneo yaitu pada Tahun 1357 M, Laksamana Nala terlibat dalam “Perang Bubat” melawan pasukan Pajajaran mendampingi Maha Patih Gajah Mada.
Perang ini terjadi akibat kesalah pahaman di antara kedua pasukan. Dalam perang tersebut Prabu Lingga Buana Raja Pajajaran beserta seluruh pengawalnya terbunuh, karena menghadapi pasukan Majapahit yang berkali-kali lipat lebih banyak, melihat ayahnya terbunuh anak Prabu Lingga Buana yang bernama Putri Dyah Pitaloka bunuh diri, padahal Putri Dyah Pitaloka ini rencananya hendak di lamar oleh Prabu Hayam Wuruk.
Akibat dari peperangan ini hubungan Maha Patih Gajah Mada dengan Prabu Hayam Wuruk menjadi terganggu, dan juga mengakibatkan permusuhan yang berkepanjangan antara orang Sunda dan Majapahit, konon tak satu pun daerah di Sunda (Jawa Barat) menggunakan nama berbau Majapahit.
Setelah berhasil menaklukkan Nan Sarunai pasukan Majapahit bergerak menuju Tanjungpuri namun pasukan Majapahit mendapati perlawanan yang hebat dari pasukan dan rakyat Tanjungpuri terutama dari lima orang panglima kerajaan yang terkenal tersebut. Setelah berhari-hari berperang akhirnya kedua pasukan sepakat untuk berdamai dan tidak melanjutkan peperangan.
Pasukan Majapahit kembali ke pulau Jawa dengan kekecewaan mereka tidak sanggup lagi melanjutkan peperangan karena sebelumnya sudah kelelahan berperang menghadapi kerajaan Nan Sarunai, sedangkan pihak Tanjungpuri mengalami kehancuran dimana-mana Infrastruktur kerajaan banyak yang rusak. Akibat dari peperangan tersebut kerajaan Tanjungpuri menjadi lemah, perdagangan yang dahulu ramai menjadi sunyi karena para pedagang takut untuk singgah di pelabuhan ketika mendengar ada peperangan.
Sebagai tanda terima kasih kepada lima orang Panglima kerajaan, Raja Tanjungpuri memberikan kelima orang Panglimanya wilayah kekuasaan. Panglima Alai di daerah Batang Alai, Panglima Tabalong di daerah Batang Tabalong, Panglima Balangan di daerah Batang Balangan, Panglima Hamandit di daerah Batang Hamandit dan Panglima Tapin di daerah Batang Tapin.
Raja Tanjungpuri sendiri akhirnya memindahkan pusat kerajaan ke daerah Kuripan (Amuntai) karena kota raja sebelumnya (Tanjung) banyak mengalami kehancuran akibat diserang Majapahit. Lambat laun nama Tanjungpuri semakin terlupakan dan lebih dikenal dengan sebutan baru yaitu Kuripan. Kekuasaan kerajaan Kuripan melingkupi daerah yang sama dengan kekuasaan kerajaan Tanjungpuri.
Pada Tahun 1387 M seorang bangsawan dari Keling (Kediri) yang merupakan wilayah Majapahit melakukan ekspedisi ke tanah Borneo, pertama-tama mereka menaklukkan kerajaan Candi laras di Marga Sari. Ekspedisi ini di pimpin oleh Empu Jatmika, di bantu oleh dua orang putranya yaitu Lambungmangkurat dan Mandastana. Dalam rombongan itu juga turut serta Pasukan Bhayangkara di bawah pimpinan Hulubalang Arya Megatsari dan 1000 tentara Majapahit di bawah pimpinan Tumenggung Tatah Jiwa.
Empu Jatmika sendiri sebenarnya adalah seorang buronan politik masa lalu Majapahit. Karena Empu Jatmika adalah keturunan bangsawan kerajaan Kediri yang merupakan musuh kerajaan Singosari (leluhur Majapahit) di masa lalu. Setelah berhasil menguasai Candi Laras Empu Jatmika mendirikan kerajaan Negaradipa dan diangkat sebagai kepala pemerintahan dengan gelar Maharaja di Candi. Dengan bantuan Majapahit akhirnya Negaradipa menjadi kerajaan yang kuat. Namun demikian sebagai timbal baliknya Negaradipa menjadi Negara bagian Majapahit atau dikenal dengan istilah “sakai”.
Walau Negaradipa cukup kuat tapi untuk menyerang kerajaan Kuripan masih berpikir dua kali karena walau bagaimana pun kekuatan Kuripan waktu itu masih diperhitungkan, apalagi ada lima kerajaan kecil yang dipimpin oleh mantan Panglima kerajaan Tanjungpuri ada dibelakangnya. Untuk memuluskan rencananya Maharaja di Candi merayu Raja Kuripan agar mau mengawinkan putrinya dengan putranya, namun Raja Kuripan menolak, tidak putus asa Lambungmangkurat yang bertindak sebagai Mangkubumi menawarkan penggabungan kedua kerajaan dan mengangkat Putri Junjung Buih anak Raja Kuripan sebagai ratu Negaradipa.
Akhirnya Raja Kuripan menerima tawaran tersebut dengan berbagai pertimbangan, walau banyak ditentang oleh para kerabat dan pejabat Kahuripan. Negaradipa pun memindahkan pusat kerajaan ke Kuripan. Atas keputusannya yang kontroversi itu membuat Raja Kuripan merasa bersalah dan akhirnya mengasingkan diri diikuti beberapa kerabat ke daerah Batu Piring (Paringin). Di Batu Piring Raja Kuripan mendirikan kerajaan kecil bernama Kerajaan Batu Piring dan saudara raja diangkat sebagai kepala pemerintahannya.
Walau pun Junjung Buih sudah diangkat menjadi Ratu di Negaradipa namun semua kebijakan tetap ditangan Patih Lambungmangkurat. Negaradipa ternyata kepanjangan tangan Majapahit di Pulau Kalimantan, Beberapa Pangeran Kuripan yang kecewa pergi meninggalkan Istana, namun diburu oleh pihak Negaradipa karena dikawatirkan akan melakukan pemberontakan.
Para Pangeran melarikan diri ke daerah Batang Alai dan diangkat menjadi pemimpin di daerah tersebut. Merasa terancam Patih Lambungmangkurat memerintahkan menyerang daerah Banua Lima, yaitu Batang Alai, Batang Tabalong, Batang Balangan, Batang Hamandit dan Batang Tapin. Kerajaan Batu Piring sendiri luput dari penyerangan karena bersedia menjadi bagian dari kerajaan Negaradipa. Dibantu oleh pasukan Majapahit pimpinan Hulubalang Arya Megatsari dan Tumenggung Tatah Jiwa kelima daerah itu bisa ditaklukkan.
Sementara Pangeran Kuripan berhasil diselamatkan oleh para Panglima dan disembunyikan di daerah Mangga Jaya (Wilayah Kec. Batang Alai Timur sekarang) di pegunungan Meratus. Daerah Mangga Jaya sendiri konon sulit ditaklukkan oleh Negaradipa beberapakali pasukan Negaradipa dikirim kesana namun tidak pernah berhasil menaklukkan daerah Manggajaya, sebab menurut legenda setempat di sana tempat berkumpulnya para Panglima Banua Lima yang sakti dan juga topografi daerahnya yang dikelilingi banyak pegunungan sehingga sangat bagus untuk sebuah tempat pertahanan.

Related Posts:

Rumah Jomblo Hancur di Hantam Puting Beliung - Rabu, 25 Oktober 2017


BANJARBARU • Hujan deras sore hari disertai puting beliung menerjang kawasan komplek Graha Praja Idaman membuat 'rumah jomblo' yang terkenal pun disapu angin hingga hancur, Rabu (25/10/2017).
Posisinya tinggi dipuncak tanah merah di tengah area sebuah perumahan di kawasan Kesatrian Secaba dan Dodiklatpur di Jalan Gunung Kupang, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru.
Hingga berita ini diturunkan, sekitar pukul 17.32 Wita suasana lokasi masih ramai oleh warga. "Sedih sekali belum sempat foto di rumah jomblo," ucap Ani warga setempat.
Rumah ini awalnya memang tanpa nama, namun para anak muda itu kerap menamainya di media sosial dengan sebutan Rumah Jomblo.
Rumah jomblo memang terkenal dengan keunikannya dan selalu jadi sasaran objek foto.


Related Posts:

Jeruk Madang ternyata Asli Sungai Madang Gudang Hirang Sungai Tabuk

SUNGAI TABUK, SB  – Jika anda penyuka Jeruk Madang, tentu sepakat bahwa rasanya manis, segar dan  kandungan airnya banyak. Yang menjadi masalah sekarang, dimana sebenarnya daerah penghasil jeruk lokal dan manis  tersebut?

Menurut Anang Syahrani, Madang atau Sungai Madang itu masuk dalam wilayah Desa Gudang Hirang dan berbatasan dengan Desa Lok Baintan Dalam, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar.

Ditambahkan Anang Syahrani yang juga Kepala Desa Gudang Hirang ini,  budidaya  jeruk lokal yang ada di wilayah Sungai Madang, masih menggunakan bibit lama, sehingga belum menghasilkan produk jeruk yang maksimal.

Selaku aparat desa, dirinya mengaku sudah punya rencana peremajaan bibit jeruk yang ada di perkebunan milik petani di Sungai Madang tersebut. Namun menurutnya, akses jalan darat yang belum tersedia menuju Sungai Madang bisa kendala rencananya tersebut. “Semuanya tergantung pada akses jalan darat yang diketahui hingga sekarang belum mencapai Sungai Madang,” kata Anang Syahrani belum lama tadi.

Ditambahkannya, proses pembuahan Jeruk Madang sangat bergantung dengan kondisi tanah. Wilayah Sungai Madang dan sekitarnya,  sangat cocok untuk tumbuh kembang jeruk lokal tersebut.

“Jangan salah, buah jeruk yang dihasilkan di luar Sungai Madang tidak sama, meski jenis bibit yang ditanam sama dengan yang ada di Sungai Madang,” ujarnya.

Meski secara fisik buahnya tidak terlalu besar, jeruk yang dihasilkan dari kebun petani di Sungai Madang, rasanya tetap manis dan kandungan airnya juga banyak. Dan itu sangat dipengaruhi pada jenis tanah, ditambah sistem pemeliharaan budidaya jeruk yang baik.

Anang Syahrani berandai, jika saja pemerintah daerah bisa membantu para petani  mengembangkan budidaya jeruk lokal, termasuk penyediaan bibit dan mempertahankan lahan perkebunan dengan regulasinya, Sungai Madang bukan tidak mungkin jadi ikon sentra Jeruk Madang


Related Posts:

Tentang Pangeran Antasari "Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin" Pahlawan Nasional dari Kalimantan

Hari apa kah besok?

Besok adalah hari yg sangat bersejarah bagi rakyat Kalimantan Selatan yakni hari memperingati Wafatnya Pahlawan Nasional Pangeran Antasari. Pangeran Antasari meninggal dunia pada tanggal 11 Oktober 1862 di Tanah Kampung Bayan Begok, Sampirang.

Pangeran Antasari. Beliau lahir di Kayu Tangi, Banjar, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, 1797 atau 1809 dan meninggal di Bayan Begok, Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah, 11 Oktober 1862 pada umur 53 tahun. Ia adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Sebagai seorang pangeran, ia merasa prihatin menyaksikan kesultanan Banjar yang ricuh karena campur tangan Belanda pada kesultanan semakin besar. Gerakan-gerakan rakyat timbul di pedalaman Banjar. Pangeran Antasari diutus menyelidiki gerakan-gerakan rakyat yang sedang bergolak.

Ia meninggal karena penyakit paru-paru dan cacar di pedalaman sungai Barito, Kalimantan Tengah. Kerangkanya dipindahkan ke Banjarmasin dan dimakamkan kembali di Taman Makam Perang Banjar Banjarmasin Utara, Banjarmasin. Perjuangan beliau dilanjutkan oleh puteranya Sultan Muhammad Seman dan mangkubumi Panembahan Muda (Pangeran Muhammad Said) serta cucunya Pangeran Perbatasari (Sultan Muda) dan Ratu Zaleha.

Pada 14 Maret 1862, beliau dinobatkan sebagai pimpinan pemerintahan tertinggi di Kesultanan Banjar (Sultan Banjar) dengan menyandang gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin dihadapan para kepala suku Dayak dan adipati (gubernur) penguasa wilayah Dusun Atas, Kapuas dan Kahayan yaitu Tumenggung Surapati/Tumenggung Yang Pati Jaya Raja.

Silsilah Pangeran Antasari
Semasa muda nama beliau adalah Gusti Inu Kartapati. Ayah Pangeran Antasari adalah Pangeran Masohut (Mas'ud) bin Pangeran Amir bin Sultan Muhammad Aminullah. Ibunya Gusti Hadijah binti Sultan Sulaiman. Pangeran Antasari mempunyai adik perempuan yang bernama Ratu Antasari/Ratu Sultan yang menikah dengan Sultan Muda Abdurrahman tetapi meninggal lebih dulu sebelum memberi keturunan. Pangeran Antasari tidak hanya dianggap sebagai pemimpin Suku Banjar, beliau juga merupakan pemimpin Suku Ngaju, Maanyan, Siang, Sihong, Kutai, Pasir, Murung, Bakumpai dan beberapa suku lainya yang berdiam di kawasan dan pedalaman atau sepanjang Sungai Barito.

Setelah Sultan Hidayatullah ditipu belanda dengan terlebih dahulu menyandera Ratu Siti (Ibunda Pangeran Hidayatullah) dan kemudian diasingkan ke Cianjur, maka perjuangan rakyat Banjar dilanjutkan pula oleh Pangeran Antasari. Sebagai salah satu pemimpin rakyat yang penuh dedikasi maupun sebagai sepupu dari pewaris kesultanan Banjar. Untuk mengokohkan kedudukannya sebagai pemimpin perjuangan umat Islam tertinggi di Banjar bagian utara (Muara Teweh dan sekitarnya), maka pada tanggal 14 Maret 1862, bertepatan dengan 13 Ramadhan 1278 Hijriah, dimulai dengan seruan:

Hidup untuk Allah dan Mati untuk Allah!"

Seluruh rakyat, pejuang-pejuang, para alim ulama dan bangsawan-bangsawan Banjar; dengan suara bulat mengangkat Pangeran Antasari menjadi "Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin", yaitu pemimpin pemerintahan, panglima perang dan pemuka agama tertinggi.[6]

Tidak ada alasan lagi bagi Pangeran Antasari untuk berhenti berjuang, ia harus menerima kedudukan yang dipercayakan oleh Pangeran Hidayatullah kepadanya dan bertekad melaksanakan tugasnya dengan rasa tanggung jawab sepenuhnya kepada Allah dan rakyat.

Perlawanan terhadap Belanda
Lanting Kotamara semacam panser terapung di sungai Barito dalam pertempuran dengan Kapal Celebes dekat pulau Kanamit, Barito Utara Perang Banjar pecah saat Pangeran Antasari dengan 300 prajuritnya menyerang tambang batu bara milik Belanda di Pengaron tanggal 25 April 1859. Selanjutnya peperangan demi peperangan dipkomandoi Pangeran antasari di seluruh wilayah Kerajaan Banjar. Dengan dibantu para panglima dan pengikutnya yang setia, Pangeran Antasari menyerang pos-pos Belanda di Martapura, Hulu Sungai, Riam Kanan, Tanah Laut, Tabalong, sepanjang sungai Barito sampai ke Puruk Cahu.

Pertempuran yang berkecamuk makin sengit antara pasukan Khalifatul Mukminin dengan pasukan Belanda, berlangsung terus di berbagai medan. Pasukan Belanda yang ditopang oleh bala bantuan dari Batavia dan persenjataan modern, akhirnya berhasil mendesak terus pasukan Khalifah. Dan akhirnya Khalifah memindahkan pusat benteng pertahanannya di Muara Teweh.

Berkali-kali Belanda membujuk Pangeran Antasari untuk menyerah, namun beliau tetap pada pendirinnya. Ini tergambar pada suratnya yang ditujukan untuk Letnan Kolonel Gustave Verspijck di Banjarmasin tertanggal 20 Juli 1861.

....Dengan tegas kami terangkan kepada tuan: Kami tidak setuju terhadap usul minta ampun dan kami berjuang terus menuntut hak pusaka (kemerdekaan)”

Dalam peperangan, belanda pernah menawarkan hadiah kepada siapa pun yang mampu menangkap dan membunuh Pangeran Antasari dengan imbalan 10.000 gulden. Namun sampai perang selesai tidak seorangpun mau menerima tawaran ini. Setelah berjuang di tengah-tengah rakyat, Pangeran Antasari kemudian wafat di tengah-tengah pasukannya tanpa pernah menyerah, tertangkap, apalagi tertipu oleh bujuk rayu Belanda pada tanggal 11 Oktober 1862 di Tanah Kampung Bayan Begok, Sampirang, dalam usia lebih kurang 75 tahun. Menjelang wafatnya, beliau terkena sakit paru-paru dan cacar yang dideritanya setelah terjadinya pertempuran di bawah kaki Bukit Bagantung, Tundakan.
Setelah terkubur selama lebih kurang 91 tahun di daerah hulu sungai Barito, atas keinginan rakyat Banjar dan persetujuan keluarga, pada tanggal 11 November 1958 dilakukan pengangkatan kerangka Pangeran Antasari. Yang masih utuh adalah tulang tengkorak, tempurung lutut dan beberapa helai rambut. Kemudian kerangka ini dimakamkan kembali Komplek Pemakaman Pahlawan Perang Banjar, Kelurahan Surgi Mufti, Banjarmasin. Jika Pangeran Antasari selalu menekankan bahwa "Haram Menyerah" kepada musuh, maka semestinya ini bisa kita jadikan pencerahan untuk diri kita. Bisa saja kita menyemangati diri kita dengan semangat "Haram Menyerah" kepada kemiskinan, ketidak adilan atau apa saja yang hendak kita capai! Terkadang dengan kata semangat dan keingin dari diri sendiri, bukan mustahil ini bisa menjadi penambah kekuatan untuk diri kita dalam menggapai apa yang kita inginkan-dalam arti tujuan yang mulia tentunya!!!

Pangeran Antasari telah dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional dan Kemerdekaan oleh pemerintah Republik Indonesia berdasarkan SK No. 06/TK/1968 di Jakarta, tertanggal 23 Maret 1968. Nama Antasari diabadikan pada Korem 101/Antasari dan julukan untuk Kalimantan Selatan yaitu Bumi Antasari. Kemudian untuk lebih mengenalkan P. Antasari kepada masyarakat nasional, Pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) telah mencetak dan mengabadikan nama dan gambar Pangeran Antasari dalam uang kertas nominal Rp 2.000. —


Related Posts:

"PERSAUDARAAN BANJAR DAN DAYAK"

"PERSAUDARAAN BANJAR DAN DAYAK"
“SIAPAKAH ORANG BANJAR” – maka banjar adalah secara genetis perpaduan gen Dayak dan para pendatang tetapi secara Budaya lebih dominan berbudayakan Melayu.suku banjar bukanlah suku pada awalnya, suku banjar tercipta semenjak adanya Kesultanan Banjar, jadi suku banjar terbentuk karena sekelompok orang yg menjadi rakyat kesultanan Banjar yg berbudaya MELAYU dan beragama ISLAM yg berdiam disebuah bangsa. Maka suku ini tercipta karena adanya bangsa. Maka Banjar adalah Banjar bukan Dayak, Banjar adalah satu entitas tersendiri tetapi asal usulnya tidak dapat dilepaskan dari orang-orang Dayak. Ibarat saudara sepupuan. Maka tepatlah istilah Banjar & Dayak adalah “BADINGSANAK”. Hubungan antara suku Banjar dan kaum Dayak selalunya dalam keadaan baik. Beberapa kaum Dayak masuk Islam dan berasimilasi dengan budaya suku Banjar yg notabene berbudaya Melayu ,serta memanggil diri mereka orang Banjar. Kaum Dayak menganggap suku Banjar sebagai saudara. Ini diperkuatkan lagi dengan banyaknya perkawinan antara suku Banjar dan kaum Dayak termasuk pada peringkat raja. Contohnya, Biang Lawai, isteri kepada Raja Banjar adalah dari etnik Dayak Ngaju.
Dan banyak lagi Sultan banjar yg mengambil istri dr suku dayak. 
Terlebih lagi adanya cabang Kesultanan Banjar di pemukiman dayak yaitu Kesultanan Kotawaringin (Kesultanan Kutaringin) yg diperintah oleh salah satu Pangeran Kesultanan Banjar yaitu Pangeran Anta Kasoema Dan para masyarakat dayak disana menerima kedatangan utusan kesultanan Banjar untuk mendirikan Kesultanan baru /cabang dari Kesultanan Banjar dan menyebarkan islam disana.
Hubungan ini menjadi kuat apabila mereka berhadapan dengan penjajahan. Mereka bersama-sama berperang dan beberapa pejuang yang terlibat dalam Perang Banjar adalah dari etnik Dayak. Contohnya.
Panglima Batur, dari etnik Dayak Siang Murung.
Panglima Wangkang, ayahnya Dayak Bakumpai dan ibunya Banjar.
Panglima Batu Balot (Tumenggung Marha Lahew), pahlawan wanita yang menyerang Kubu Muara Teweh pada tahun 1864-1865.
Banyak lagi pejuang banjar dan dayak berperang dan berjuang bersama. 
Tidak pernah ada pergesekan antara banjar dan dayak dan keharmonisan ini akan selalu terjaga. Aamiin yaa rabbal alamiin ...
DI MANA TANAH DI JAJAK DI SITU JUA LANGIT DI JUNJUNG
Baginda Sultan Haji Khairul Saleh Al-Moo'tasheem Billah juga berpesan agar masyarakat Banjar di manapun berada tetap menjunjung Marwah BANJAR sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi kebersamaan dan persaudaraan.


Related Posts:

Terjadi kebakaran d desa Sungai Sumur Rt 4 Rw 2 - 02.okt.2017 sekitar 08.00Wita

02.okt.2017 sekitar 08.00Wita
terjdi kebakaran d desa Sungai Sumur Rt 4 Rw 2.yg terbakar 1 Bh Warung
Pemilik warung :
- a/n : Ibu Ainun Istri dr bp Abdurahman
Kronologis :
Pemilik warung yg sdg memasak dkt dgn Bensin.api menyambar bensin tsb.
Dan Pemilik warung sendiri mengalami luka bakar d bagian Kaki kiri dan kanan
Namun tdk ada korban jiwa.
Cm itu yg bs kami sampaikan.mhn maaf ats segla kekurgn dlm penulisan.
Sumber informasi :
* Rohmat Dwi Hariyanto...Pol PP
* Acil iyah...Org tua korban
* Ahmad Yusup... Anggota Hansip
* Muhammad ... KA Dusun 5 desa batu tungku.
* Abdurahman ... Suami Korban.est
* Edwin Djinggo77


Related Posts:

BERINGAS..!! Pria Ini Tebas Bocah Ingusan dengan Samurai - Senin, 02 Oktober 2017

Senin, 02 Oktober 2017
BERINGAS..!! Pria Ini Tebas Bocah Ingusan dengan Samurai
Kanit Reskrim Polsek Ketapang Ipda Romadhon saat menunjukkan samurai yang digunakan oleh pelaku untuk menebas korban di Mapolsek,
SAMPIT-Entah apa yang dipikirkan oleh pemuda putus sekolah berinisial MZ (16), bukannya malah bersekolah justru harus menginap di kantor polisi. Pasalnya warga Jalan Anang Santawi Gang Sedap Malam Ketapang, Sampit ini menebas tangan seorang anak yang boleh dibilang masih ingusan, yakni Yoga Pratama.
Akibat tebasan samurai tersebut, bocah yang baru berumur 13 tahun ini mengalami luka parah di tangannya. Kejadian ini sendiri terjadi sekitar satu bulan yang lalu. Polisi baru berhasil mengamankan pelaku, Sabtu malam (30/9). Pemuda putus sekolah ini ditangkap saat mengetahui keberadaanyadi sekitar rumahnya dan saat ini sudah diamankan di Mapolsek.
Kapolsek Ketapang Ipda Romadhon membenarkan penangkapan terhadap anak di bawah umur yang tega melakukan penganiayaan terhadap korban. Bahkan tidak hanya pelaku saja yang diamankan, tetapi juga samurai yang digunakan untuk beraksi juga berhasil ditemukan. Pelaku sudah diamankan untuk dilakukan proses hukum selanjutnya.
Kejadian ini bermula di Jalan D.I Penjaitan No. 23 (Depan Toko Widya Jaya) Kelurahan MB Hulu, Kecamatan MB Ketapang, Sampit terjadi di pada 26 Agustus 2017 sekitar pukul 22.00 WIB. Saat itu sedang terjadi tawuran, pelaku yang diketahui membawa senjata tajam ini tidak melihat situasi sehingga menyerang secara membabi buta.
“Pengakuan korban saat itu sedang melintas dan tidak mengikuti aksi tawuran, tiba-tiba terkena sabetan samurai oleh pelaku. Korban terkena di bagian pegelangan tangan sebelah kiri hingga robek dan mengeluarkan darah,”katanya.
Korban dibawa ke rumah sakit untuk diberikan perawatan secara intensif. Mengetahui anaknya menjadi korban penganiayaan orang tuanya melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian, akhirnya pelaku berhasil diamankan dan diringkus untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Berkaitan dengan kasus ini polisi juga melakukan penyelidikan terhadap aksi geng yang selama ini kerap kalimelakukan tawuran di wilayah Ketapang Sampit. Ironisnya aksi yang didominasi anak-anak di bawah umur ini cukup meresahkan.
“Kami akantindak tegas dan saat ini masih menyelidiki siapa saja yang tergabung dalam genk dan sering membuat onar. Kami secepatnya akan memburu danmelakukan tindakan agar tidak membuat resah,”ujarnya.


Related Posts:

Kapuas Geger! Nurdin Tanam Pisang Raksasa di Belakang Rumah

Kapuas Geger! Nurdin Tanam Pisang Raksasa di Belakang Rumah, Terbelalak Lihat Ukurannya
Minggu, 1 Oktober 2017

KUALAKAPUAS - Warga Kota Kualakapuas, Kabupaten Kapuas, Kalteng geger.
Pasalnya ada pohon pisang yang langka berada di belakang rumah Nurdin Okta (53), kawasan Jalan Setiadji RT24, nomor 131 Kecamatan Selat.
Kenapa disebut langka, karena ukuran buah pisang tersebut lebih besar dari ukuran pisang pada biasanya.
Nurdin Okta yang dihubunggi via telepon selulernya, Minggu (1/10/2017) mengatakan, pisang yang ditanam di belakang rumah, bermula berasal dari bibit pisang raja yang dibeli di pasar.
Kemudian pada saat ditanam lebih dari empat bulan, pohonya sudah besar.
Dalam hitungan hari terlihat tongkol dan menyusul buah.
"Kita terkejut pada saat melihat buah pisang itu besar-besar. Jumlah buahnya hanya 15 pisang, namun ukurannya besar-besar. Kita tidak pernah melihat pisang sebesar ini," katanya.
Setelah diukur panjangnya 42 cm dengan berat sekitar 1,5 kg.
Kemudian pisang itu dipetik dan kondisi pisang masih mentah. Beberapa tetangganya pun datang untuk melihat pisang raksasa itu.


Related Posts:

FATWA MUI Tentang Ajaran Kai Harun Amuntai - 19/9/2017

AMUNTAI - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Hulu Sungai Utara (MUI) telah mengeluarkan fatwa mengenai majelis zikir dan solawat serta pemahaman yang diajarkan oleh Muhammad Asri atau Kai Harum, warga Desa Cempaka, Kecamatan Amuntai Selatan.
Empat Fatwa MUI No :405/MUI-HSU/IX/2017 ini adalah pertama menyatakan bahwa Kai Harum bukanlah wali, bukan habib dan bukan alim ulama atau ustadz sesuai dengan pengakuannya.
Kai Harum terbukti tidak mengerti ilmu agama seperti hukum menghadap Baitullah saat salat, hukum kewajiban salat Jumat bagi laki-laki, hukum berjabat tangan dan berpelukan dengan orang yang bukan mahram.
Menurut Kai Harum, Baitullah menghadap ke empat arah yaitu depan, belakang, kiri dan kanan dapat dijadikan arah salat. Padahal sebenarnya pendapat ini tidak ada dalam semua mazhab manapun, dan arah kiblat merupakan salah satu syarat sahnya salat.
Kai Harum juga memiliki pendapat yang berbeda mengenai hukum salat jumat bagi laki laki dan berjabat tangan serta berpelukan dengan yang bukan muhrim.
"Dengan ini kami menilai bahwa Kai Harum tidak mengetahui secara baik syariat Islam dan tidak mampu membaca Alquran dan kitab kuning yang menjadi syarat sesorang disebut alim ulama," ujar KH Said Masrawan yang dimasukman dalam fatwa pertama MUI, Senin (18/09/2017).
Fatwa kedua adalah melarang/mengharamkan kepada masyarakat dan seluruh umat Islam untuk belajar agama kepada Kai Harum. Juga meminta kepada alim ulama, guru agama, ustadz dan tokoh masyarakat agar dapat membinbing umat ke arah kebaikan.
Fatwa ketiga adalah Majelis zikir dan salawat yang diaelenggarakan Kai Harum setiap Minggu malam atau malam Senin agar bacaan, tata cara, dan adabnya sesuai dengan tuntunan agama seperti yang dipelajari dalam adab zikir dalam adab zikir.
"Kai Harum diwajibkan untuk berguru dengan ulama yang menguasai agar tidak terjadi kesalahan bacaan maupun tata cara, juga tidak menggunakan pengeras suara, karena dapat mengganggu orang lain," ujarnya.
Fatwa Keempat adalah semua pihak baik dari Kai Harum dan pengikutnya maupun masyarakat secara umum diwajibkan menahan diri agar tidak melakukan tindak kekerasan baik fisik maupun mental terhadap orang lain.
"Kami juga meminta kepada aparat kepolisian agar menjaga kondisi di masyarakat," ungkapnya.
Penyampaian Fatwa MUI juga dihadiri oleh Dewan pertimbangan KH M Hamdan Khalid Lc , Drs H A Jahri M.AP, KH Muhammad Ramli, KH M Said Masrswan Lc, MA dan H Sarmadi, Lc S.Pd.I.
Dr KH Sabran Affandi yang juga merupakan ulama HSU mengatakan menyelenggarakan majelis zikir dan salawat memang sangatlah bagus, namun juga perlu diperhatikan apa yang diajarkan, kitab apa yang dipakai. Jangan sampai belajar dari orang yang tidak paham agama.






Related Posts:

Banjarmasin Bahari Kala alias tempo Dulu

Kota Banjarmasin adalah Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan dan merupakan salah satu kota besar di Indonesia. Kota ini juga dijuluki sebagai kota seribu sungai, karena banyaknya sungai yang terdapat disana. Pada mulanya Banjarmasin merupakan sebuah perkampungan yang dipimpin oleh Pangeran Samudera.
Pada tanggal 24 September 1526 M atau bertepatan pada 6 Zulhijah 932 H, Pangeran Samudera memeluk agama Islam dan bergelar Pangeran Suriansyah. Tanggal ini ditetapkan sebagai hari jadi Kota Banjarmasin.
Seiring berjalannya waktu, Banjarmasin terus berkembang menjadi pusat ekonomi dan budaya dan pembangunan semakin pesat. Beberapa tempat di Kota Banjarmasin yang ada saat ini ternyata sudah ada dan dibangun sejak tempo doeloe. Berikut ini adalah foto-foto yang merekam jejak sejarah Kota Banjarmasin tempo doeloe.



















































Related Posts: